JAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa sikap jalan tengah atau wasathiyah yang menjadi karakter Muhammadiyah berperan penting dalam memperkuat persatuan nasional.
“Wasathiyah adalah DNA-nya Muhammadiyah. Sikap ini tercermin dalam keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, kesediaan berdialog, dan pengabdian bagi masyarakat,” ujar Fajar saat mengisi kuliah umum bertema “Moderasi Beragama dan Persatuan Nasional: Perspektif Muhammadiyah” bagi peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Angkatan LXX Tahun 2026 Lemhannas RI di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Menurut Fajar, sifat tersebut ditegaskan dalam Kepribadian Muhammadiyah, antara lain beramal untuk perdamaian dan kesejahteraan, memperbanyak kawan, serta bersikap lapang dada dan luas pandangan dengan tetap teguh pada ajaran Islam. Kepribadian tersebut menjadi pegangan dalam berdakwah maupun membangun hubungan dengan masyarakat dan negara.
Muhammadiyah juga, menurut Fajar, selalu menekankan pentingnya bekerja sama dengan lintas golongan, membantu pemerintah, serta tetap bersikap adil dan kritis apabila terdapat hal yang perlu dikoreksi. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa keteguhan beragama dapat berjalan bersama tanggung jawab kebangsaan.
Fajar menjelaskan, karakter Muhammadiyah tumbuh melalui perjalanan panjang pemikiran dan pengalaman organisasi. Salah satu fondasinya adalah Masalah Lima yang membahas pengertian agama, dunia, ibadah, sabilillah, dan qiyas.
Agama, lanjutnya, memuat perintah, larangan, serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat. Pemahaman tersebut memberi ruang bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan keahlian manusia untuk menjawab berbagai persoalan kehidupan.
Dalam hubungan dengan negara, Muhammadiyah, menurut Fajar, mengutamakan dialog dan persuasi. Kritik terhadap kebijakan pemerintah disertai dengan kesediaan membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.
“Pandangan kritik dibarengi apresiasi dan harapan. Itu ciri Muhammadiyah,” ujar Fajar yang juga merupakan Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) PP Muhammadiyah.
Fajar mencontohkan keterlibatan Muhammadiyah dalam penanganan pandemi Covid-19. Muhammadiyah mengedepankan pendekatan medis dan ilmu pengetahuan, menggerakkan pelayanan kesehatan, serta membentuk Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC).
Sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah tetap berjalan bersama kontribusi dalam membantu negara menghadapi pandemi, jelas lulusan program doktor Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.
Respons anggota Muhammadiyah terhadap kebijakan penanganan Covid-19 juga menjadi fokus penelitian disertasi Fajar di UGM. Penelitian tersebut mengkaji dinamika respons di DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Sumatera Barat.
Dalam bidang pendidikan, Fajar menekankan pentingnya sekolah sebagai ruang perjumpaan yang merekatkan masyarakat lintas agama. Ia pernah melakukan riset bersama Abdul Mu’ti, yang kini menjabat Sekretaris Umum PP Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, mengenai kehidupan pendidikan di sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Riset tersebut melahirkan buku “Kristen Muhammadiyah: Mengelola Pluralitas Agama dalam Pendidikan” dan mengangkat istilah Kristen Muhammadiyah atau Krismuha. Istilah ini menggambarkan kedekatan sosial warga Kristen dengan Muhammadiyah melalui pengalaman pendidikan, dengan tetap mempertahankan keyakinan agamanya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat menumbuhkan kepercayaan dan persaudaraan lintas iman. Sekolah menjadi tempat belajar bersama sekaligus ruang untuk memahami dan menghormati perbedaan.
“Nilai moderasi perlu tercermin dalam cara pemimpin berdialog, menyikapi perbedaan, dan mengambil keputusan bagi kepentingan bersama,” tegas Fajar.
Kuliah umum tersebut diikuti 110 peserta P4N Angkatan LXX Tahun 2026. Deputi Pendidikan Pimpinan Tingkat Nasional Lemhannas RI, Marsda TNI Bob Henry Panggabean, menyampaikan apresiasi atas kesediaan Fajar hadir dan memberikan pembekalan di tengah kesibukannya menjalankan tugas sebagai salah satu wakil menteri dalam Kabinet Merah Putih.(**/San)














Komentar