oleh

Muhammadiyah Uji Coba MBG Prasmanan di 20 SPPG, Tanamkan Soft Skill

banner 468x60

YOGYAKARTA – Badan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM) mulai menguji coba program Makan Bergizi dengan model prasmanan di 20 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di enam provinsi, yakni Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Lampung, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tenggara.

 

banner 336x280

Direktur BPPGM, M. Nurul Yamin, menjelaskan bahwa penerapan model prasmanan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi siswa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas pangan dan membangun karakter positif peserta didik.

 

Menurutnya, penyajian makanan secara prasmanan memungkinkan pengawasan terhadap kualitas dan proses penyajian pangan dilakukan dengan lebih baik. Dengan demikian, kualitas makanan yang dikonsumsi siswa diharapkan tetap terjaga.

 

“Model prasmanan ini tidak hanya memperhatikan kualitas pangan yang disajikan, tetapi juga memiliki nilai pendidikan. Melalui praktik makan bersama, siswa dapat belajar budaya antre, menaati aturan, bertanggung jawab, berdoa sebelum dan sesudah makan, serta membangun kebersamaan,” jelas Yamin.

 

Yamin menambahkan, model prasmanan dapat menjadi sarana pembelajaran keterampilan nonakademik atau soft skill bagi siswa. Kebiasaan sederhana seperti mengantre, mengambil makanan sesuai kebutuhan, menjaga ketertiban, dan menghargai orang lain merupakan bagian dari pembentukan karakter yang dapat ditanamkan melalui aktivitas sehari-hari.

 

Meski demikian, model prasmanan tidak dapat diterapkan di seluruh SPPG Muhammadiyah. Penerapannya membutuhkan perlengkapan tambahan yang memenuhi standar tertentu serta penyesuaian dengan kondisi di lapangan dan karakteristik penerima manfaat.

 

Bagi Muhammadiyah, praktik makan bersama dengan sistem prasmanan bukanlah hal baru. Pola tersebut telah lama diterapkan di sejumlah lembaga pendidikan Muhammadiyah, terutama pesantren, sekolah berasrama (boarding school), serta lingkungan sekolah lainnya.

 

Pengalaman tersebut menjadi modal bagi Muhammadiyah dalam mengembangkan skema pelayanan Makan Bergizi yang tidak hanya menitikberatkan pada pemenuhan gizi, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan dan pembiasaan perilaku positif.

 

“Dalam pelaksanaannya, Muhammadiyah mengembangkan beberapa skema pelayanan yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan penerima manfaat. Skema tersebut meliputi pelayanan berbasis sekolah (school kitchen), pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, serta layanan umum,” imbuh Yamin.

 

Keberagaman skema tersebut memungkinkan penyelenggaraan program disesuaikan dengan kondisi masing-masing lingkungan pelayanan. Pengelolaan yang terkoordinasi juga diharapkan dapat memperkuat pengawasan terhadap kualitas bahan pangan, proses pengolahan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.

 

Yamin menegaskan bahwa pengembangan berbagai model pelayanan Makan Bergizi merupakan bagian dari upaya Muhammadiyah membangun sistem penyediaan makanan bergizi yang terkoordinasi dan terkonsolidasi dengan baik.

 

Melalui uji coba model prasmanan di 20 SPPG tersebut, Muhammadiyah berupaya mengoptimalkan pelayanan pemenuhan gizi sekaligus menghadirkan nilai tambah dalam pendidikan karakter siswa.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *