BANDAR LAMPUNG — Semangat wirausaha tak harus menunggu lulus kuliah. Itulah yang dibuktikan oleh Muhamad Syafiq Ramadhan, mahasiswa semester 2 Program Studi Teknologi Pangan Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya.
Di tengah kesibukan kuliah, ia bersama rekannya Ahnaf Jovico Nadhir, mahasiswa Bisnis Digital, sukses merintis usaha minuman kekinian bernama murahmaran yang kini tengah diminati kawula muda gen Z.
Usaha yang berdiri sejak 6 April 2026 ini lahir dari ide sederhana dua mahasiswa yang ingin memiliki bisnis kecil. Berawal dari niat mencoba, kini murahmaran berkembang menjadi usaha skala mikro yang fokus pada penjualan minuman dengan harga terjangkau.
Nama murahmaran sendiri memiliki filosofi unik. “Murah itu berarti terjangkau, sedangkan maran berarti berkunjung. Harapannya, dengan harga yang murah, orang-orang tertarik untuk datang dan mencoba,” ujar Syafiq saat diwawancarai pada Rabu (29/4/26).
Mengusung konsep minuman kekinian dengan cita rasa yang ramah di kantong, murahmaran menawarkan beragam varian, mulai dari gula aren, caffe latte, original, americano, hingga minuman non-kopi seperti matcha latte, taro latte, dan red velvet latte. Tak hanya fokus pada kopi, usaha ini juga menyasar pelanggan yang menyukai minuman manis dan creamy.
Berlokasi di Jalan Onta No. 10 Bandar Lampung, usaha ini perlahan mulai dikenal di kalangan mahasiswa dan masyarakat sekitar. Syafiq mengaku, kecintaannya terhadap kopi menjadi salah satu alasan utama dalam membangun bisnis ini. Namun, ia juga ingin menghadirkan pilihan rasa yang lebih luas agar bisa dinikmati semua kalangan. “Awalnya saya memang suka kopi, tapi saya sadar tidak semua orang suka kopi. Jadi kami juga kembangkan varian lain supaya semua orang bisa menikmati,” jelasnya.
Menariknya, di balik kesibukannya berwirausaha, Syafiq tetap fokus pada studinya di bidang Teknologi Pangan. Ia mengungkapkan bahwa pilihannya masuk prodi tersebut didasari oleh ketertarikannya terhadap isu lingkungan, khususnya dalam pengolahan limbah.
“Saya tertarik dengan dunia lingkungan, terutama pengolahan limbah seperti plastik dan food waste. Harapannya ke depan, ilmu yang saya pelajari bisa diterapkan juga dalam usaha yang saya jalankan,” ungkapnya.
Secara tidak langsung, ia ingin mengembangkan bisnis yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga ramah lingkungan. Ke depan, Syafiq bersama Ahnaf berencana terus mengembangkan murahmaran, baik dari segi varian produk maupun konsep usaha.
Dengan semangat muda dan keberanian memulai, langkah Syafiq dan Ahnaf menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya bisa belajar di kelas, tetapi juga menciptakan peluang. Dari segelas minuman, lahir mimpi besar yang siap berkembang lebih jauh. (**)




















Komentar