Oleh Prof. Dr. Muhammad Ihsan Dacholfany, M.Ed.
Kota Metro — Transformasi manajemen pendidikan berbasis nilai dan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) menjadi langkah strategis dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Gagasan ini mengemuka dalam pemaparan akademik yang disampaikan oleh Muhammad Ihsan Dacholfany, Sabtu (25/4/2026).
Dalam paparannya, Ihsan menekankan bahwa arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar terhadap sistem pendidikan. Karena itu, lembaga pendidikan dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan berdampak bagi masyarakat.
“Pendidikan harus menjadi benteng moral di tengah derasnya arus globalisasi. Tanpa nilai yang kuat, generasi muda akan mudah terpengaruh budaya instan, hedonisme, dan individualisme,” ujarnya.
Tantangan Teknologi dan Disrupsi Digital
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI), komputasi kuantum, dan inovasi digital telah mengubah lanskap pendidikan secara signifikan. Namun di sisi lain, kemajuan ini juga memunculkan persoalan baru, seperti krisis etika digital, penyebaran misinformasi, hingga kecanduan gawai.
Kondisi tersebut menuntut lembaga pendidikan untuk segera beradaptasi melalui transformasi manajemen yang terintegrasi antara teknologi dan nilai kemanusiaan.
Baca Juga : ‘Aisyiyah dan UNISA Yogyakarta Perkuat SOP Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi
Peran Strategis Pendidikan
Pandangan serupa disampaikan Iskhaq Iskandar yang menyebut pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.
“Pendidikan bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang membentuk akal, karakter, dan masa depan bangsa,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir menilai bahwa transformasi pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari paradigma berpikir hingga praktik di lapangan.
Integrasi Nilai dan IPTEKS
Transformasi pendidikan, lanjut Ihsan, harus mengedepankan integrasi antara nilai moral dan penguasaan IPTEKS. Hal ini sejalan dengan konsep pendidikan abad ke-21 yang diusung UNESCO, yang menekankan keseimbangan antara pengetahuan, keterampilan, dan karakter.
Menurut Bambang Setiaji, penguatan program studi berbasis teknologi informasi menjadi langkah penting dalam meningkatkan daya saing global. Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus tetap dibarengi dengan nilai etika.
Baca Juga : Dosen Darmajaya Optimalkan Radio SMAN 1 Bandar Lampung Lewat Sistem Pemancar FM
Langkah Strategis
Untuk mewujudkan transformasi tersebut, sejumlah langkah strategis dinilai perlu dilakukan, antara lain penguatan literasi digital berbasis nilai, revitalisasi kurikulum, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat.
Selain itu, penerapan etika dalam penggunaan teknologi, termasuk AI, juga menjadi perhatian penting guna menciptakan ekosistem digital yang sehat.
Peluang di Tengah Tantangan
Di tengah berbagai tantangan, transformasi pendidikan juga membuka peluang besar. Perkembangan teknologi dapat menjadi akselerator pembelajaran, sementara kolaborasi global memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan.
Dengan pendekatan yang tepat, pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berkarakter, adaptif, dan berdaya saing global.
“Transformasi ini harus dilakukan secara sistematis dan melibatkan semua pihak agar benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” pungkas Ihsan.
Editor : Shodiq

















Komentar