BANDAR LAMPUNG – Di era Artificial Intelligence (AI), Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi bukan lagi jaminan seseorang mudah memeroleh pekerjaan. Perguruan tinggi kini dituntut melahirkan lulusan yang adaptif, menguasai teknologi, dan memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia industri.
Pandangan itu disampaikan Prof. Dr. Anuar Sanusi, S.E., M.Si., Direktur Direktorat Pengembangan Institusi dan Kampus Berdampak sekaligus Dosen Program Studi Manajemen Unggul Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, dalam tulisan ilmiahnya berjudul Masa Depan Pendidikan Tinggi di Era AI: Membangun Lulusan Bernilai, Memperkuat Kolaborasi Industri, dan Melahirkan Pemimpin Inklusif.
Menurut Prof. Anuar, perkembangan AI telah berlangsung jauh lebih cepat dibanding kemampuan sebagian besar perguruan tinggi beradaptasi. Kondisi itu menyebabkan masih adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. “Persoalannya bukan lagi sekadar nilai akademik, tetapi sejauh mana lulusan memiliki kompetensi, kemampuan beradaptasi, keterampilan digital, serta nilai tambah yang benar-benar dibutuhkan industri,” ujarnya.
Ia menilai penguasaan AI kini telah menjadi literasi baru yang wajib dimiliki mahasiswa. Bahkan, kemampuan menyusun prompt atau instruksi yang tepat kepada AI menjadi keterampilan penting karena menentukan kualitas analisis, informasi, dan solusi yang dihasilkan.
Prof. Anuar juga menyoroti masih terjadinya missing link antara dunia pendidikan dan dunia industri. Karena itu, kurikulum perguruan tinggi harus disusun berdasarkan kebutuhan nyata pengguna lulusan, bukan semata-mata dari perspektif akademik.
Menurutnya, sinergi dengan dunia usaha perlu diperkuat melalui program magang, sertifikasi kompetensi, penelitian terapan, hingga pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki pengalaman praktis sebelum memasuki dunia kerja.
Transformasi tersebut, lanjutnya, juga mengubah peran dosen. Dosen tidak lagi sekadar menyampaikan materi, melainkan menjadi fasilitator, mentor, sekaligus pembimbing yang mampu mengarahkan mahasiswa memanfaatkan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.
Tak kalah penting, Prof. Anuar menegaskan bahwa transformasi pendidikan tinggi membutuhkan kepemimpinan yang visioner, adaptif, dan inklusif. Kemajuan teknologi, katanya, harus berjalan seiring dengan kemampuan membangun kolaborasi, mengelola perubahan, serta memberdayakan seluruh sivitas akademika. “Bukan AI yang akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang mampu menggunakan AI akan menggantikan manusia yang tidak mampu memanfaatkannya,” tegasnya.
Sebagai Direktur Direktorat Pengembangan Institusi dan Kampus Berdampak IIB Darmajaya, Prof. Anuar berpandangan bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak cukup hanya mengadopsi AI. Perguruan tinggi juga harus memperkuat tata kelola, memperluas kolaborasi dengan industri, membangun budaya inovasi, dan mencetak lulusan yang memiliki kompetensi global, karakter kuat, literasi digital, serta jiwa kepemimpinan.
Ia berharap perguruan tinggi di Indonesia mampu menjadi pusat lahirnya generasi pembelajar sepanjang hayat yang siap menghadapi disrupsi, memimpin perubahan, serta mendorong inovasi demi meningkatkan daya saing bangsa di era kecerdasan buatan.(**)














Komentar