Sabtu 7 Maret 2026, Muhammad Ihsan Dacholfany yang juga Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Metro menghadiri Yudisium Kelas 5 KMI Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur, merupakan momen yang sangat menegangkan antara gembira atau sedih bagi santri Pondok Modern Gontor Pusat dan Cabang nya dari seluruh Indonesia dalam kegiatan yudisium kenaikan kelas 5 setingkat kelas 2 SMA /MA sederajat ke kelas akhir 6 menuju kelas akhir KMI Pondok Modern Darussalam Gontor yang juga dihadiri oleh walisantri untuk mendengarkan pengumuman kenaikan kelas anak-anak nya, apakah tetap kelas 5 alias tidak naik kelas yang sering disebut “Mujiddin: agar bertambah sungguh-sungguh dalam segala hal” atau santri tersebut naik ke kelas akhir dan tetap menjadi Panitia Bulan Ramadhan (PBR) dilanjutkan Panitia Bulan Syawal (PBS), apakah tetap di Pondok yang sama, atau naik kelas 6 tapi pindah ke pondok cabang pesantren Gontor di seluruh Indonesia.
Bagi para santri atau wali santri ini bukan sekadar pengumuman naik kelas biasa. Ini semacam “hari penentuan nasib”—yang walaupun tampak sederhana, sebenarnya cukup sakral, seru dan deg-degan… dan tentu saja menegangkan.
Sekitar 2.500 santri kelas 5 putra dari berbagai Cabang Pondok Pesantren Gontor saat ini sudah berkumpul di Pondok Darussalam Gontor pusat Ponorogo Jawa Timur sejak beberapa hari lalu dan para wali santri menginap di pondok yang telah disediakan pondok dibagian Penerimaan Tamu (BAPENTA), di gedung PP IKPM atau wisma Darussalam bahkan ada yang tinggal dirumah penduduk yang mereka siapkan sendiri untuk disewa, hal ini sama dengan kegiatan yudisium kelas 6 akhir KMI Gontor, dan lebih ramai lagi saat test penerimaan calon santri Gontor baru yang tentunya harus seleksi nya cukup ketat. Mereka datang dari berbagai kampus Gontor se-Indonesia, membawa cerita, pengalaman, dan kenangan masing-masing selama lima tahun perjalanan di pondok Darussalam Gontor Pusat atau Cabang.
Sementara itu, untuk kampus putri KMI Pondok Pesantren Darussalam Gontor, yudisium juga dilaksanakan pada waktu yang sama, hanya saja tidak dikumpulkan di satu tempat. Mereka menjalani yudisium di kampusnya masing-masing.
Menariknya, sebelum hari H tiba, suasana tidak hanya diisi dengan ketegangan menunggu keputusan. Justru beberapa hari ini diisi dengan berbagai kegiatan yang tujuannya mempererat ukhuwah antar santri kelas 5 dari berbagai Pesantren Cabang
Ada pentas (seni) 5 show, pertandingan sepak bola antar kampus, pembekalan bahasa, dan kegiatan lainnya, jadi di satu sisi mereka tertawa, bermain, dan bercanda bersama walaupun rasa khawatir dan galau,
di sisi lain, di dalam hati masing-masing mungkin ada yang diam-diam berpikir:
“Besok saya masih di sini atau pindah ke pondok pesantren Gontor yang lain ya?” apakah tetap di Pondok Gontor Pusat Ponorogo, atau pindah ke lampung, Sulawesi, Magelang, Banyuwangi, Kediri dan daerah lainnya atau tidak naik kelas, tetap di kelas 5.
Di sinilah letak salah satu keunikan Pondok Pesantren Darussalam Gontor sebab yang datang dari berbagai daerah dan bahkan dari luarnegeri.
Menurut ihsan yang juga alumnii Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo dan sempat mengajar di almamater ini mengungkapkan ia hadir mendengarkan pengumuman kenaikan kelas anaknya ke kelas 6 akhir KMI Pondok Pesantren Darussalam Gontor bahwa Kenaikan dari kelas 5 menuju kelas 6 akhir tidak hanya diumumkan lewat papan pengumuman biasa. Ia diputuskan melalui yudisium yang dibacakan oleh panitia di depan gedung pertemuan BPPM dan yang membuatnya semakin menegangkan adalah panghilan satu persatu dengan pakaian kemeja putih , celana hitam dan berkopiah sambil berzikir, baca Qur’an menunggu panggilan namanya disebut, apalagi adanya sistem mutasi santri ke pesantren lainnya bahkan tetap dikelas 5.
Seorang santri bisa saja selama ini belajar di satu kampus, lalu ketika naik kelas 6 dipindahkan ke kampus lain. Tujuannya bukan apa-apa, tetapi untuk pemerataan, menjaga kualitas, dan memperluas pengalaman para santri.
Sebagian santri mungkin senang karena mendapat “petualangan baru”.
Sebagian lagi mungkin mulai menghitung-hitung dalam hati:
“Kalau pindah… kira-kira bagaimana ya.,.”
Begitulah cara Gontor mendidik: membiasakan santri siap ditempatkan di mana saja.
Dan tentu saja ada satu tradisi yang selalu menjadi penanda bahwa mereka benar-benar sudah naik ke kelas akhir: cukur “Jundi”.
Begitu dinyatakan naik ke kelas 6, rambut para santri akan dipangkas pendek ala tentara. Dalam waktu singkat, ribuan kepala akan tampak hampir sama semua, tentunya tidak pulang melanjutkan kepanitian bulan ramadhan (PBR) dan Panitia Bulan Syawal (PBS) menyambut calon santri baru yang akan ikut test seleksi masuk Pesantren Darussalam Gontor dan bagi yang tidak naik kelas tentu tidak dicukur ala jundi dan dipersilakan untuk pulang berlibur kerumah atau keluarga sampai bulan syawal, kembali lagi ke pondok, keputusan ini berdasarkan nilai dan akhlak santri serta musyawarah wali kelas dan pimpinan serta ditetapkan berdasarkan surat keputusan pimpinan pondok dan Direktur.
Kalau ada yang sebelumnya merasa rambutnya paling kece dan merasa ganteng… besok mungkin akan sama saja dengan yang lain, aja jundi semua.
Itulah salah satu “ritual” menuju kelas 6 akhir kekas 6 KMI Pondok Pesantren Gontor yang agak berbeda dengan Pondok Pesantren lainnya.
Bagi para wali santri, momen seperti ini biasanya terasa agak unik.
Di satu sisi kita ingin santai saja.
Di sisi lain, rasanya tetap ada deg-degan kecil di dalam hati menunggu hasil pengumuman walaupun panas terik matahari.
Karena bagaimanapun, sepanjang keputusan belum dibacakan, segala kemungkinan masih bisa terjadi.
Maka para santri kelas 5 dan para wali santri siap menunggu dari pagi sampai siang kemarin, sebelum semuanya diputuskan, mungkin tidak ada yang lebih baik selain memperbanyak doa, berzikir dan berserah diri, berharap yang terbaik menurut Allah, dari sekitar 2500 santri kelas 5, ada yang gagal ke kelas 6 akhir, dari pengumuman tersebut ada santri yang gagal berjumlah 22 santri yang mengulang lagi di kelas 5 (Mujiddin), tapi insha Allah mereka mengulang kembali ke pondok pesantren dan insha Allah kelak, mereka diberi nasehat dan motivasi oleh pimpinan pondok Pesantren Darussalam Gontor , insha Allah , tahun depan mereka bisa naik kelas 6, harus yakin ini yang terbaik menurut Alkah, nantinya kelak bisa naik kelas 6 dan setelah kelas 6 akan menjadi pengurus organisasi santri dan kepanduan dll, bahkan ada yang jadi guru di pondok Gontor Pusat atau cabang bahkan setelah jadi alumni, ia bisa jadi lebih baik walaupun tertunda 1 tahun bahkan ada menjadi pengusaha, guru, dosen, Guru Besar di perguruan tinggi, bahkan ada yang jadi Pimpinan Pondok Pesantren, tentu ini tergantung tekad dan semangatnya untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Namun bagi santri yang naik kelas, baik yang tetap dipondok sebelumnya atau dimulai ke pondok cabang /pusat, harus banyak bersyukur dan terus memperbaiki diri agar lebih baik lagi apalagi calon alumni Pondok Pesantren Darussalam Gontor.
Semoga Allah memberikan yang terbaik, di tempatkan yang paling baik menurut Allah demi untuk masa depan mereka, dan kelak lulus dengan husnul khotimah di akhir perjalanan KMI Pesantren Darussalam Gontor.
Mari kita titipkan mereka dalam doa dan ikhtiar Karena seringkali, hal-hal besar dalam hidup… justru diputuskan setelah doa-doa ..
Semoga Allah memberikan yang terbaik, yakin semua ada hikmahnya menjadi santri san alumni yang munzirul qoum dan perekat ummat.
Ikuti Saluran WhatsApp Inspiratif.co.id, Instagram : @inspiratif.co.id_official, X : @inspiratifL, @PORT_INSPIRATIF, laman Facebook Media Inspiratif.co.id, untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.














Komentar