Kota Metro – Di tengah semangat kaum muslimin menjalankan berbagai ibadah seperti salat berjamaah, puasa sunnah, hingga qiyamul lail, masih terdapat satu penyakit lisan yang kerap sulit dihindari, yaitu ghibah atau membicarakan keburukan orang lain di belakangnya. Padahal, Islam memberikan peringatan keras terhadap perbuatan tersebut karena dapat merusak kehormatan sesama muslim dan menghapus pahala amal kebaikan.
Ustadz Ibnu Abidin As-Soronji menjelaskan bahwa banyak orang mampu meninggalkan berbagai dosa besar seperti zina, minuman keras, dan dusta, namun masih terjerumus dalam ghibah. Kondisi ini menunjukkan bahwa menjaga lisan merupakan salah satu ujian terbesar dalam kehidupan seorang muslim.
Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan menggambarkan pelaku ghibah dengan perumpamaan yang sangat menjijikkan dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, Allah menyamakan ghibah dengan memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal dunia. Gambaran tersebut menunjukkan betapa besar kebencian Allah terhadap perbuatan ghibah.
Menurut para ulama, perumpamaan tersebut sengaja digunakan agar manusia merasa jijik dan menjauhi ghibah sebagaimana mereka merasa jijik memakan bangkai manusia. Bahkan sahabat Nabi, Amru bin Al-Ash Radhiyallahu ‘anhu, pernah mengatakan bahwa memakan bangkai hewan lebih baik daripada memakan kehormatan seorang muslim melalui ghibah.
Pengertian Ghibah Menurut Islam
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebutkan sesuatu tentang saudara muslim yang tidak disukainya, meskipun apa yang disebutkan itu benar adanya. Jika yang dikatakan tidak benar, maka perbuatan tersebut berubah menjadi fitnah atau tuduhan dusta yang dosanya lebih besar.
Para ulama menerangkan bahwa ghibah tidak hanya berkaitan dengan kekurangan fisik seseorang. Menyebutkan keburukan terkait akhlak, nasab, agama, pekerjaan, kondisi ekonomi, bahkan meniru kekurangan orang lain dengan tujuan merendahkan juga termasuk bentuk ghibah.
Contohnya adalah menyebut seseorang dengan julukan yang merendahkan, mengomentari bentuk fisiknya secara negatif, atau membandingkannya dengan orang lain untuk menjatuhkan martabatnya. Semua bentuk tersebut termasuk pelanggaran terhadap kehormatan sesama muslim.
Ancaman Keras bagi Pelaku Ghibah
Dalam sebuah hadis, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa saat peristiwa Isra Mikraj beliau melihat sekelompok manusia yang mencakar wajah dan dada mereka sendiri dengan kuku dari tembaga. Ketika ditanya, Malaikat Jibril menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang suka mengghibahi manusia dan mencela kehormatan sesamanya.
Hadis ini menjadi salah satu dalil kuat yang menunjukkan beratnya dosa ghibah. Mayoritas ulama bahkan mengategorikan ghibah sebagai dosa besar karena adanya ancaman yang sangat keras dalam Al-Qur’an dan hadis.
Baca : Berawal dari Hobi Desain, Mahasiswa Desain Interior IIB Darmajaya Sukses Bangun Usaha 3D Printing
Imam Al-Qurthubi menukil adanya kesepakatan banyak ulama bahwa ghibah termasuk dosa besar. Pendapat ini diperkuat oleh berbagai dalil yang menunjukkan bahwa ghibah bukan sekadar kesalahan ringan, melainkan perbuatan yang dapat mendatangkan azab Allah apabila tidak disertai taubat yang sungguh-sungguh.
Menjaga Lisan dan Memperkuat Persaudaraan
Di era media sosial saat ini, ghibah semakin mudah dilakukan. Komentar, unggahan, atau percakapan digital sering kali menjadi sarana untuk membicarakan keburukan orang lain tanpa disadari. Oleh karena itu, umat Islam dituntut untuk lebih berhati-hati dalam menjaga ucapan maupun tulisan.
Menjaga lisan bukan hanya bagian dari akhlak mulia, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap kehormatan sesama muslim. Dengan menjauhi ghibah, persaudaraan akan semakin kuat, hati menjadi lebih bersih, dan amal ibadah dapat terjaga dari kerusakan.
Sebagaimana penutup ayat dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, Allah membuka pintu taubat bagi hamba-Nya yang ingin kembali kepada jalan yang benar. Karena itu, setiap muslim hendaknya segera bertaubat apabila pernah terjerumus dalam ghibah dan berusaha memperbaiki diri dengan memperbanyak amal saleh serta menjaga lisannya dari perkataan yang menyakiti orang lain.
*Penulis:* Ustadz Ibnu Abidin As-Soronji (al manhaj)



















Komentar