oleh

Ihsan TIDAK MAU DIPANGGIL PROF, Pilih Tetap Disapa Biasa

banner 468x60

Kota Metro — “Ihsan nama pendeknya…” begitu ia membuka ceritanya dengan santai, seolah ingin menegaskan bahwa dirinya tetaplah sama seperti dulu. Di tengah momen sakral pengukuhan sebagai Guru Besar, ia justru menghadirkan suasana hangat dengan permintaan sederhana: jangan panggil dirinya Profesor.

Selama ini, Ihsan dikenal dengan banyak sapaan. Di kampus, sekolah, rumah, hingga organisasi, ia akrab dipanggil Abi, Pak, Cak, Bapak, Dinda, Mamang, Ayahanda, Kanda, Mas, Om, Dek, atau Kak. Bahkan ada juga yang memanggilnya “Pak Abi”. Semua panggilan itu lahir dari kedekatan, bukan sekadar formalitas.

banner 336x280

Usai menerima SK dan pengukuhan sebagai Guru Besar, Ihsan menyampaikan harapan yang cukup unik. Ia meminta agar semua orang tetap memanggilnya seperti biasa—Pak Ihsan, Mas Ihsan, atau panggilan akrab lainnya. Baginya, gelar Profesor tidak perlu ditonjolkan dalam keseharian.

Permintaan itu bukan tanpa alasan. Ihsan mengaku khawatir jika penggunaan gelar Profesor justru melahirkan jarak. Ia tidak ingin ada kesan hierarki yang berlebihan di lingkungan akademik maupun sosial. Menurutnya, budaya pengkultusan gelar bisa memperkuat feodalisme dan membuat hubungan menjadi kaku.

Ia juga menyinggung potensi munculnya kesombongan akademik. Baginya, ilmu dan jabatan seharusnya tidak menjadikan seseorang merasa lebih tinggi dari yang lain. Justru, semakin tinggi capaian, semakin besar pula tanggung jawab untuk tetap rendah hati.

Di hadapan para tamu undangan, Ihsan menyampaikan pesan itu dengan tulus. Ia bahkan meminta agar harapan tersebut diteruskan kepada mereka yang tidak hadir dalam acara pengukuhan. Baginya, ini adalah prinsip yang ingin ia pegang ke depan.

Meski begitu, rasa syukur tetap menjadi hal utama. Ihsan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perjalanan akademiknya. Ia menyadari bahwa capaian ini bukan hasil kerja sendiri, melainkan buah dari banyak doa dan dukungan.

Akhirnya, Ihsan menegaskan bahwa gelar hanyalah amanah. Yang terpenting adalah bagaimana ia bisa memberi manfaat, menjadi penggerak kebaikan, dan menghadirkan keteladanan di tengah masyarakat. Dan untuk itu, ia merasa cukup dipanggil seperti biasa—karena baginya, kedekatan lebih berarti daripada sekadar gelar.

Senin, 13 April 2026
Tulisan oleh : Prof. Dr. M. Ihsan Dacholfany, M.Ed
Edit : Shodiq

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *