JAKARTA – Belum tuntas mengupas dampak program pemberdayaan, arena gerakan filantropi malah dikabarkan oleh Kemenag RI akan dibuatkan tampilan data visual (dashboard) bersama yang berbasis waktu nyata dalam agenda pengentasan kemiskinan.
Badan dan lembaga amil zakat akan bersama-sama menyajikan data itu dari aksi layanannnya. Kendati jalan program pemberdayaannya berbeda-beda, tujuannya sama yaitu pengentasan kemiskinan dan wujudkan kesejahteraan.
Jelang akhir Juli 2026, Lazismu menggelar Resepsi Milad ke – 24 di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta pada Rabu (29/7/26). Lazismu Wilayah secara nasional merapat lewat daring dan mitra kolaborasi dari entitas perusahaan hadir mengikuti jalannya resepsi yang berlangsung meriah.
Di hari jadinya yang jatuh pada 4 Juli 2022, acara puncak milad Lazismu mengusung tema “Integrasi Menguatkan Dampak”. Tema tersebut merupakan refleksi perjalanan Lazismu atas kiprahnya di kancah nasional gerakan filantropi Islam selama 24 tahun.
Ketua Badan Pengurus Lazismui Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais mengatakan bahwa makna dampak mengandung pesan untuk perlu memperkuat diri kita dari sisi integrasi tata kelola kelembagaan dan sistem data. “Integrasi tersebut harus dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Apa yang bisa dibantu untuk menjawab persoalan masyarakat”, jelasnya.
Maka integrasi harus menjadi pijakan agar potensi yang dimiliki Lazismu dapat bergerak dalam satu kerangka yang terarah dan menghasilkan dampak yang lebih luas. Mujadid menilai bahwa amil itu harus mendengar dan peka terhadap isi hati masyarakat. Dengan mendengar problem itu amil dapat menjawan persoalan masyarakakat yang dibutuhkan secara tepat sasaran.
Lahan dakwah gerakan filantropi begitu luas, karena itu perlu dipikirkan dan direncanakan jalan transformasi yang hendak dicapai agar mustahik bisa menjadi sejahtera. Indikatornya, kata Mujadid ada dua yakni penguatan tata kelola dan program yang berdampak.
*Luput Dari Perhatian*
Integrasi data kemiskinan sebetulnya sudah sering dibicarakan banyak pihak termasuk pemerintah sendiri. Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Waryono Abdul Ghafur mengaku hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Perhatian yang sama disampaikan Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief bahwa sebagai peneliti dan pelaku gerakan filantropi eksposur data masih luput dari perhatian.
Menurutnya, Ia masih sulit menemukan lembaga filantopi di Indonesia yang memiliki kualitas data. Ekosistem gerakan zakat memang tumbuh dan berkembang. Bahkan menjadi kekuatan tersendiri yang ditopang oleh sistem dan modal kulturalnya yang kompleks.
Baca : Milad ke-24 Lazismu, Integrasi Menguatkan Dampak itu Mendengarkan Isi Hati Masyarakat
“Hanya saja kekuatan data itu belum terhubung oleh entitas lain seperti perusahaan dan industri keuangan. Impiannya berbagai program pemberdayaan yang dilakukan lembaga amil zakat saling terhubung. Potensi besar itu belum sepenuhnya didengar di kancah internasional”, pungkasnya.
Kita memiliki inovasi praktik baik yang banyak, tetapi belum cukup andal dalam eksposur kepada dunia. Oleh karena itu, dalam amanahnya, Hilman menggariskan bahwa data, literasi dan eksposur perlu diperkuat kembali.
Hingga kini, menurut Waryono, kita masih berusaha untuk melakukan integrasi keuangan. Sementara kita akan melangkah menuju integrasi data, tentu saja ini bukan hal yang mudah.
Dalam aspek integrasi dan program yang berdampak saja perlu beberapa instrumen. Lalu bagaimana menguatkan muzaki dan pengumpulan besar sangat dipengaruhi oleh muzaki.
“Ukuran kesuksesan badan dan lembaga amil adalah seberapa banyak pada dampak. Ini tantangan kita semua. Kendati mandatori lembaga amil zakat itu jelas namun dampaknya harus lebih bisa dirasakan oleh masyarakat”, tuturnya.
Yang menjadi perhatian bersama, jangan sampai terjadi bahwa dengan hasil penghimpunan yang besar tapi lingkungan di sekitar kita masih ada orang yang berselimut kemiskinan. Artinya, tegas Waryono, programnya belum berdampak pada orang miskin.
Kembali pada isu integrasi data, ke depannya kita akan mendesain dashboard. Suatu tampilan data visual bersama yang dapat dijadikan informasi untuk membaca pertumbuhan dan perkembangan layanan program lembaga amil zakat yang juga nantinya terhubung ke lembaga terkait seperti Kementerian.
Integrasi data berasal dari komunikasi dan koordinasi lintas lembaga. Wakil Ketua Baznas, Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan bahwa tema yang diangkat Lazismu sangat menarik. Sekaligus menjadi tantangan pengelolaan zakat selama ini, kata Sa’adi.
“Potensi zakat sangat besar dan kita sering mengitung, mengkalkulasi dan hanya sekian persen potensi itu kita raih. Potensi itu bisa terus hasilkan dengan dampak yang kuat bagi kehidupan masyarakat kita”, paparnya.
Hemat Sa’adi, tema milad Lazismu ini kita tangkap sebagai satu kekuatan agar kita bisa lakukan bersama. Sa’adi mewakili Baznas mengatakan setidaknya jalan integrasi itu menyajikan integrasi kelembagaan, integrasi data dan integrasi sumber daya. “Masing-masing saling melengkapi dan menjangkau kebutuhan masyarakat. Tidak semua bisa diintegrasikan paling tidak integrasi data untuk menyelesaikan tumpang tindih selama ini”, tandasnya.
Dalam kesempatan berbeda, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan empat pesan kepada Lazismu untuk menjadi kekuatan yang terintegrasi dan berdampak. Pesan itu antara lain, kata Haedar yaitu konsolidasi jaringan Lazismu secara nasional dan Lazismu di luar negeri.
“Ini menjadi kunci utama tujuan integrasi dalam membangun soliditas di dalam sistem pengorganisasian”, jelasnya. Pesan kedua integrasi dinamika gerakan yang progresif dan meluas, dan pesan ketiga, integrasi aktivitas pentasyarufan dan pemanfaatan dana ZISKA yang terkumpul di lingkungan persyarikatan dengan lebih terpadu. Pesan terakhir, kata Haedar, meningkatkan jejaring sehingga kolaborasi dengan berbagai pihak terus menambah penghimpunan agar lebih luas dan besar jangakuannya.
Kemudian, sambung dia, bagaimana potensi yang ada itu terus digali oleh Lazismu dengan berbagai pendekatan. Saluran publikasi harus terus dilakukan secara terus-menerus. “Mari manfaatkan teknologi infomasi seperti media sosial. Ini langkah menemukan relasi baru yang masif dan strukturnya luas, tutupnya.
*[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Author]*




















Komentar