HattaOleh: Junaidi Ismail, S.H. | Ketua Umum Poros Wartawan Lampung
BANDAR LAMPUNG – Sosok Mohammad Hatta, Proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, tetap relevan untuk menjadi teladan kepemimpinan hingga hari ini. Bukan hanya karena perannya dalam sejarah kemerdekaan, tetapi juga karena integritas, kesederhanaan, dan keberaniannya menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi.
Gemala Hatta, putri Bung Hatta, kembali mengungkap kisah kehidupan sang ayah. Dari berbagai sisi kehidupannya, ada pelajaran penting bahwa kepemimpinan bukan sekadar kewenangan, melainkan juga karakter dan tanggung jawab terhadap rakyat.
Bung Hatta dikenal sebagai sosok yang tekun membaca, menulis, berdiskusi, dan menganalisis persoalan bangsa. Ia terlibat dalam perumusan Proklamasi Kemerdekaan bersama Soekarno dan Achmad Soebardjo. Dalam proses perubahan rumusan Piagam Jakarta menjelang pengesahan UUD 1945, kepentingan menjaga persatuan bangsa yang majemuk juga menjadi pertimbangan penting.
Pengalaman sejarah itu menunjukkan bahwa membangun negara membutuhkan pemikiran matang, kesediaan berdialog, serta kemampuan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan.
Keteladanan Bung Hatta juga terlihat dalam sikapnya terhadap keuangan negara. Pada 1950, ia disebut membeli obligasi pemerintah senilai Rp326.000 menggunakan uang hasil menulis. Kisah ini menggambarkan partisipasi seorang pemimpin dalam mendukung negara yang baru merdeka.
Bagi Bung Hatta, jabatan bukan jalan untuk memperkaya diri, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan etika dan tanggung jawab. Nilai tersebut tetap penting di tengah persoalan korupsi, penyalahgunaan kewenangan, konflik kepentingan, dan penggunaan fasilitas negara yang tidak semestinya.
Kesederhanaan juga menjadi bagian dari warisan Bung Hatta. Namun, teladan itu bukan berarti pejabat harus hidup dalam kekurangan. Hal yang lebih mendasar adalah memastikan penghasilan dan fasilitas jabatan digunakan secara wajar, transparan, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Kepercayaan publik tidak tumbuh hanya melalui slogan nasionalisme atau pidato tentang pengabdian. Kepercayaan lahir dari konsistensi antara perkataan dan tindakan, kebijakan yang memperhatikan kepentingan rakyat, serta penegakan hukum yang adil.
Karena itu, mengenang Bung Hatta seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan pujian terhadap masa lalu. Nilai perjuangannya perlu menjadi ukuran dalam menilai praktik pemerintahan saat ini. Presiden, menteri, kepala daerah, anggota legislatif, aparat penegak hukum, dan seluruh penyelenggara pelayanan publik memiliki tanggung jawab untuk menjalankan kewenangan demi kepentingan masyarakat.
Pada akhirnya, kisah Gemala Hatta mengajak kita merenungkan apa yang membuat seorang pemimpin layak dihormati. Bukan semata-mata jabatan atau besarnya pengaruh, melainkan kemampuannya menjaga kepercayaan, membatasi diri, dan meninggalkan warisan nilai bagi generasi berikutnya.
Bung Hatta menunjukkan bahwa kehormatan dapat tumbuh dari kesederhanaan dan integritas. Tantangan Indonesia hari ini adalah memastikan nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi benar-benar diterapkan dalam pemerintahan dan kehidupan berbangsa.
Sebab, kekuatan negara bukan hanya ditentukan oleh institusi dan anggaran, tetapi juga oleh integritas orang-orang yang menjalankan kekuasaan.
Bandar Lampung, 13 Oktober 2026




















Komentar