oleh

Cicilan Whoosh hingga Tiga Generasi

banner 468x60

Oleh: Junaidi Ismail, S.H. | Ketua Umum Poros Wartawan Lampung

 

banner 336x280

Anak cucu kita yang bahkan belum lahir hari ini ternyata sudah memiliki beban yang harus mereka tanggung di masa depan. Bukan karena kesalahan mereka, bukan karena keputusan mereka, tetapi karena keputusan yang dibuat oleh generasi sekarang.

 

Pernyataan ini mungkin terdengar berlebihan. Namun, itulah yang dirasakan sebagian masyarakat setelah pemerintah mengumumkan restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) dengan jangka waktu pelunasan hingga 80 tahun.

 

Pemerintah tentu memiliki alasan. Dengan memperpanjang masa pembayaran, beban cicilan setiap tahun menjadi lebih ringan. Negara tidak perlu mengeluarkan dana dalam jumlah besar sekaligus. Dari sisi pengelolaan keuangan, langkah ini bisa dipahami. Namun, persoalannya tidak hanya soal hitung-hitungan keuangan.

 

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah adil jika keputusan yang dibuat hari ini harus ditanggung hingga beberapa generasi ke depan?

 

Delapan puluh tahun bukan waktu yang singkat. Dalam rentang waktu selama itu, bisa terjadi pergantian beberapa generasi. Orang-orang yang mengambil keputusan hari ini mungkin sudah tidak ada lagi ketika utang tersebut lunas. Tetapi, kewajibannya masih tetap berjalan.

 

Karena itu, wajar jika muncul kegelisahan di tengah masyarakat. Bukan karena masyarakat menolak pembangunan, melainkan karena masyarakat ingin memastikan bahwa setiap proyek besar benar-benar memberikan manfaat yang sepadan dengan biaya yang harus dibayar.

 

Tidak dapat dipungkiri, kereta cepat merupakan salah satu simbol kemajuan infrastruktur Indonesia. Kehadirannya memberikan manfaat bagi banyak orang dan menunjukkan kemampuan bangsa membangun teknologi transportasi modern.

 

Tetapi, kebanggaan terhadap sebuah proyek tidak boleh menghilangkan ruang untuk bertanya dan mengkritisi. Justru karena nilainya sangat besar, pengelolaannya harus semakin terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

Masyarakat berhak mengetahui berapa total kewajiban yang harus dibayar hingga akhir masa utang. Masyarakat juga berhak mengetahui bagaimana proyeksi keuntungan proyek tersebut dan bagaimana pemerintah mengantisipasi risiko jika target yang direncanakan tidak tercapai.

 

Keterbukaan informasi sangat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Sebab, kepercayaan tidak dibangun oleh slogan atau pernyataan yang menenangkan, melainkan oleh transparansi dan kejujuran.

 

Polemik utang Whoosh ini seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama. Setiap proyek besar yang menggunakan pembiayaan jangka panjang harus direncanakan dengan sangat matang. Jangan sampai generasi mendatang harus menanggung akibat dari perencanaan yang kurang tepat pada masa sekarang.

 

Pembangunan memang penting. Infrastruktur juga penting. Namun, yang tidak kalah penting adalah rasa keadilan.

 

Anak cucu kita tidak pernah diajak bermusyawarah ketika keputusan ini dibuat. Mereka tidak ikut rapat, tidak memberikan persetujuan, bahkan mungkin belum lahir ke dunia. Tetapi, mereka berpotensi ikut menanggung akibatnya.

 

Karena itu, para pengambil kebijakan perlu menjadikan persoalan ini sebagai bahan introspeksi. Bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk memastikan bahwa setiap keputusan strategis benar-benar memperhitungkan kepentingan generasi yang akan datang.

 

Sebab, ukuran keberhasilan sebuah bangsa bukan hanya apa yang berhasil dibangun hari ini, tetapi juga warisan seperti apa yang ditinggalkan untuk anak cucu di masa depan. Jangan sampai kita mewariskan lebih banyak tagihan daripada harapan. (*)

 

Bandar Lampung, 10 September 2026

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *